Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Kesehatan: Flek Paru Yang Mengecoh

Flek yang satu ini pasti bikin pening kepala, terutama jika menyerang anak. Orangtua dan dokter pun sering dibuat serba salah. Tak jarang, gara-gara munculnya "flek", anak divonis berpenyakit TB(C) paru-paru. Padahal sebenarnya ia sehat walafiat. Sebaliknya, bocah yang disangka sehat, malah terjangkit penyakit. Aneh, 'kan?

"Flek" yang suka mengecoh itu punya nama lengkap flek paru-paru (disingkat flek paru). Nama yang membuat banyak dokter anak bersungut-sungut. Maklum, sampai detik ini, istilah flek paru tidak pernah ada di dalam kamus kedokteran mana pun. Statusnya mirip dengan masuk angin, panas dalam, atau saraf kejepit. Ngetop di masyarakat, tapi tak ada rujukannya di dunia medis. Entah siapa yang mulai menggunakan istilah ini. Yang jelas, kata flek berasal dari bahasa Belanda, vlek, artinya bintik alias bercak atawa noda. Para ahli radiologi menggunakannya untuk menyebut gambaran noda yang khas di foto rontgen. Lucunya, belakangan istilah ini dipakai sebagai eufemisme untuk tuberkulosis (TB) paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Padahal, "Flek di foto rontgen tidak selalu berarti tuberkulosis," kata Dr. dr. Muljono Wirjodihardjo, Sp.A (K), ahli respirologi anak dari Rumah Sakit Internasional Bintaro. "Tuberkulosis pada anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga diagnosisnya lebih sulit," tambah dr. Muljono. Dengan kata lain, jangan terkecoh oleh flek yang memang suka menyaru dan membuat orang keliru itu.

Naik kelas

Pelacakan dan keberadaan TB pada anak dan orang dewasa memang berbeda. Kuman TB pada orang dewasa bisa dilacak dari dahaknya. Sedangkan pada anak-anak, kuman itu sulit dilacak, sebab mereka belum bisa berdahak seperti sang bapak. Selain itu, gejala TB pada anak sering tersamar oleh gejala penyakit lain, misalnya flu atau batuk. Tak jarang dokter  menganggapnya sebagai batuk biasa. Pada orang dewasa, gejala TB tampak lebih jelas. Gambaran radiologisnya pun khas. Tapi pada anak, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan salah diagnosis. Kemal, seorang karyawan perusahaan asuransi, punya cerita tentang hal ini. "Anak saya pernah divonis TB. Waktu itu umurnya baru setahun. Awalnya, berat badannya enggak naik-naik. Dokter curiga, ia kena TB. Waktu dites Mantoux, hasilnya negatif. Lalu dokter minta tes rontgen. Ternyata ada flek di paru-parunya." "Dari hasil rontgen itu," tambah Kemal, "Dokter menyimpulkan anak saya
kena TB dan disuruh minum obat jangka panjang. Setelah tiga bulan, saya tanya apakah obat perlu diteruskan. Dokter bilang, terus. Namun, pada bulan keempat saya disuruh menghentikan pemberian obat tanpa ada penjelasan. Waktu itu saya enggak ngerti apa-apa. Tak tahunya, setelah mencari second opinion, anak saya sebetulnya enggak apa-apa," tuturnya sembari geleng-geleng kepala.

Selama ini, TB identik dengan penyakit udik. Orangtua biasanya akan merunduk malu jika anaknya diketahui sebagai pengidapnya. Menurut dr. Muljono, dalil itu tak lagi berlaku 100%kini. Menurut pengalamannya, banyak juga pasien anak-anak dari kelas ekonomi mapan. Banyak di antara mereka yang enggak percaya. "Tertular dari mana? Wong di rumah enggak ada yang kena kok", protes mereka. Dr. Muljono mencatat, sumber penularan yang diketahui hanya sekitar 10%. Ada yang tertular dari baby sitter, orangtua, atau orang lain yang tinggal serumah. Selebihnya, yang 90%, biang keladinya tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, si anak pasti tertular dari orang dewasa, bukan dari teman bermain. Sebab pada anak, TB bersifat tertutup, tidak menular. Kuman ini diyakini menular secara tidak langsung dari orang lain yang tidak tinggal serumah. Saat penderita batuk, kuman TB keluar dari paru-paru bersama percikan air ludah, lalu bertahan hidup sambil beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak. Dalam tubuh anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening. Itulah sebabnya, orangtua harus waspada jika si Upik atau si Ucok punya benjolan kelenjar getah bening di leher bagian belakang telinga. Selain itu, orangtua juga bisa mengamati gejala-gejala yang lain. Di antaranya, batuk tak kunjung sembuh, gampang sakit, nafsu makan hilang, berat badan tidak naik-naik atau bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas. Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif, sehingga tidak selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa saja disebabkan oleh alergi atau asma. Sedangkan demam berulang-ulang bisa karena infeksi virus langganan. Untuk memperkuat diagnosis, diperlukan tes-tes lain yang lebih akurat, seperti tes Mantoux dan foto rontgen dada. Tes Mantoux bertujuan menguji apakah tubuh pernah terpapar kuman TB. Sedangkan foto rontgen untuk mengetahui ada tidaknya infiltrat di paru-paru. Infiltrat adalah massa seperti dahak yang terjadi akibat aktivitas kuman TB. Namun, lagi-lagi di tahap ini pun banyak hal yang bisa mengecoh diagnosis. Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Kalaupun hasilnya positif, itu tidak berarti si anak pasti menderita TB. Dr. Muljono memberi contoh, anak yang pernah mendapat vaksin BCG akan memberikan respons positif terhadap tes Mantoux. Begitu pula anak yang pernah terpapar kuman TB, tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun kemasukan kuman, dia enggak sakit. "Kalau kemerahan di kulitnya sangat tebal, misalnya lebih dari 20 mm, kemungkinan besar dia memang sakit. Apalagi jika benjolan di belakang telinganya juga sangat besar. Lebih-lebih jika ada riwayat anggota  keluarga yang sakit TB," tambah dr. Muljono.

Kuman paling bandel

Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat diagnosis diperlukan tes foto rontgen. Namun, di sini pun masih ada tipuan yang harus diwaspadai. Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya menunjukkan gambaran flek paru di bagian atas. Sebab, di situlah kuman TB membangun sarangnya. Sebaliknya, pada anak-anak, kuman TB tidak membangun sarangnya di paru-paru bagian atas, melainkan di kelenjar getah bening. Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung. Jika hanya difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan jantung. Apalagi jika teknisi rontgen kurang terampil. Itulah sebabnya, untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari arah samping. Dengan begitu, gambaran paru-paru tidak diganggu oleh jantung. Ruwetnya lagi, kalaupun hasil rontgen menunjukkan flek, tidak berarti si anak positif kena TB. Muljono memberi contoh anak-anak yang sedang batuk grak-grok-grak-grok. Saat dirontgen, mungkin saja menunjukkan flek, meskipun ia tidak menderita TB. Karena itu, foto rontgen harus dilakukan pada saat anak dalam kondisi terbaik. Jika mungkin, setelah batuknya disembuhkan. Atau paling tidak, saat batuknya minimal.

Karena banyaknya faktor pengecoh itulah, diagnosis TB harus ditegakkan berdasarkan banyak pemeriksaan. Selain pemeriksaan-pemeriksaan tadi, masih ada jenis tes-tes lain. Masing-masing pemeriksaan punya skor tertentu. Jika misalnya total skornya enam atau lebih, maka itu berarti si anak memang menderita TB. Jika orangtua perlu mencari second opinion, Muljono menyarankan agar pendapat kedua dicari dari dokter lain yang lebih kompeten dan berpengalaman. Bukan sekadar ke dokter lain. "Mencari second opinion 'kan seperti naik banding. Karena itu, jangan sekadar ke dokter lain," ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3-nya di Keio University, Jepang, ini.

Bagaimana jika anak memang benar-benar menderita TB? Tak ada pilihan lain, orangtua harus siap-siap merayu si buah hati untuk minum obat setiap hari. Lamanya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun. Selama waktu itu, orangtua harus memastikan si anak minum obat sesuai aturan dokter. Dr. Muljono menegaskan hal ini, karena banyak orangtua, karena kasihan pada si Buyung, lantas menghentikan obatnya begitu gejala sakitnya hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit TB bukan berarti kuman telah terbasmi semuanya. Kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel. Ia tidak bisa dibasmi dengan satu macam antibiotik saja. Biasanya kombinasi dari beberapa obat anti-TB (OAT). Dalam kondisi digempur habis-habisan, ia akan berusaha mengawetkan diri dengan membentuk lapisan pelindung dan tidur tanpa makanan. Ia bisa bertahan dalam kondisi itu dalam jangka waktu berbulan-bulan. Itu sebabnya, pengobatan TB membutuhkan kedisiplinan ekstra. Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan, suatu saat zombie-zombie kuman itu akan bangun lagi dan menggerogoti tubuh si anak di kemudian hari. Jika ini sampai terjadi, pengobatan berikutnya menjadi lebih sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama.

Kuman generasi kedua yang telah bereinkarnasi itu lebih kebal terhadap OAT terdahulu. Akibatnya, pemilihan obat menjadi lebih sulit. Orangtua harus menyiapkan lebih banyak duit. Persoalan pun jadi lebih rumit, karena makin sering minum obat, makin besar kemungkinan fungsi hati anak terganggu. Jangan sampai terkecoh berkali-kali, ah!

Anak-anak Hanyalah Korban
Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam pencegahan TB adalah menghindari penularan. Orangtua harus memastikan tidak ada anggota keluarga yang menderita TB. Jika ada, penderita harus segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak. Mereka adalah kelompok paling rentan tertular karena daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah. Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan, anak tidak menderita TB, ia tetap harus minum OAT. Dikhawatirkan, ia tertular selama masa pengobatan. Dosis untuk anak hanya setengah dari dosis terapi dewasa. Waktunya hanya sekitar tiga bulan. Setelah itu, anak harus tetap dievaluasi kembali. Jika hasilnya negatif, pemberian obat bisa dihentikan. Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus dimulai dengan pemberantasan TB pada orang dewasa. Merekalah sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban. "Sekarang ini kasus TB pada anak mulai meningkat," kata dr. Muljono. Di Indonesia sendiri, penyakit ini masih merupakan ancaman serius. Jadi, semua orang harus ikut mengingatkan, agar terapi benar-benar komplet-plet.

Sumber Info Sehat


Minggu, 20 Mei 2007

Belajar Membaca Resep

Ilmu dari milis sehat ini baru saja dibagi oleh dr Ian. Ya, pengetahuan yang dasar sekali bagaimana membaca resep yang ditulis oleh seorang dokter. Duh, berguna banget nih dok. Paling tidak, saya bisa sedikit mengerti deh baik komposisi maupun cara pemakaiannya. Walaupun katanya dr Wati, penulisan resep standar Latin kayak gini udah gak dipakai lagi di negara lain. Pakai bahasa umum saja yang dimengerti sama pasien. Wah, dokter sini sampai dibilang ancient banget (kuno atawa jadul kali yaaa…). Pantesan kita pasien susah mo komplain, baca resepnya aja gak bisa je… :(
__________________________________
R/ dibaca resipe…. artinya ambilah
tab dibaca tablet… artinya tablet
cap dibaca capsul… artinya capsul
fl dibaca flesh… artinya botol
pulv dibaca pulveres… artinya puyer
NO dibaca nomero…. artinya sejumlah
s dibaca signa… artinya gunakan
dd dibaca (lupa)… artinya dalam satu hari (n) kali
dtd dibaca da tales doses… artinya sesuai dengnan dosis tersebut sebanyak
PRN dibaca pro renata … artinya digunakan bila diperlukan
ue dibaca usus externus… artinya digunakan sebagai obat luar
gtt dibaca gutata… artinya tetes
cth dibaca (lupa)… artinya sendok teh
C dibaca (lupa)… artinya sendok makan
Corig dibaca (lupa)… artinya sendok takar yang tersedia dari obat tersebut
pc dibaca post cunam… artinya sesudah makan
ac dibaca ante cunam… artinya sebelum makan
imm dibaca in manu medici… artinya ditangan dokter
msf dibaca (lupa)… artinya campurlah menjadi (kalau tidak salah)
CITO… artinya segera
PIM … artinya sangat segera dibutuhkan bila tidak diberikan mengancam
nyawa
sebenarnya masih banyak namun bahasa resep ini pusing sekali… jadi kita
belajar yang standar saja…
idealnya sih resep dituliskan dalam huruf cetak bukan huruf sambung agar
bisa dibaca…
dalam resep itu harus ada
1. nama dokter
2. tempat praktek, nomor telepon
3. tempat dan tanggal pemberian
4. paraf untuk setiap satu jenis obat yang diberikan atau tanda tangan untuk
obat golongan narkotik
5. nama penerima resep
6. usia
contoh resep:
dr. Ian
Klinik Aduhai
Jl antah berantah No 232
Telep 085xxxxxxx
Jakarta, 18 Januari
07
R/ paracetamol tab no X
S 3 dd tab I PRN
—————————————— ian (paraf)
R/ betadin antiseptic tub no I
S ue
—————————————— ian (paraf)
pro: Mr. ABCDEFG
usia: 25 tahun
nah cara baca resepnya adalah sbb:
resep 1:
resipe paracetamol tablet nomero X (lupa bahasa latinnya)
signa 3 dd (lupa cara bacanya) tablet I (lupa bahasa latinnya), PRO RENATA
artinya ambilah parasetamol kemasan tablet sebanyak 10, gunakan 3 kali
sehari bila diperlukan
resep 2:
resipe betadine antiseptic tube nomero I
signa usus externus
artinya ambilah betadin antiseptik kemasan tube sebanyak 1 buah, gunakan
sebagai obat luar
Langsung resep aja ya…
R/ Amoksisilin 250 mg/5 mL syr fl no I
S 3 dd cth (5 mL) no I
——————————————– ian (paraf)
dibaca ambillah amoksisilin kemasan sirup 250mg/5 mL sebanyak 1 botol
gunakan 3 kali satu sendok teh (yang berukuran 5 mL)
note: bila sediaan sirup tidak dituliskan maka berarti maksudnya sediaan
yang terkecil, misalkan amoksisilin ada dua kemasan yang 125 dan 250/5 mL,
kalau tidak ditulis berarti yang 125mg/5 ML
ini contoh resep racikan (yang seharusnya gak boleh)
R/ amoksisilin 200mg
deksametason 40mg
teofilin 10 mg
msf da pulv dtd no XX
S 3 dd pulv I
———————————————- bkn ian (paraf)
dibaca ambilah amkosisilin sebanyak 200mg, deksametason sebanyak 40 mg,
teofilin 10 mg, campourlah menjadi kemasan bubuk sesuai dengan dosis
tersebut sebanyak 20 bungkus, gunakan 3 kali 1 bungkus puyer
nah mudah-mudahan jadi mengerti sedikit demi sedikit ya…


Sabtu, 19 Mei 2007

Seputar ASI Perasan/Pompaan

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Ruang?
Jika ruangan tidak ber-AC, disarankan tidak lebih dari 4 jam Jika ruangan ber-AC, bisa sampai 6 jam.
catatan: suhu di atas harus stabil, misalnya ruangan ber-AC, tidak mati sama sekali selama botol ASI ada di dalamnya.

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Lemari Es?
Jika Ibu mengetahui bahwa dalam 4 jam ke depan ASI hasil pompa/peras tidak akan diberikan pada bayi, maka segeralah simpan di lemari es. ASI ini bisa bertahan sampai 8 (delapan) hari dalam suhu lemari es, jia ditempatkan dalam compartment yang terpisah dari bahan makanan lain yg ada di lemari es tsb. Jika lemari es Ibu kebetulan tidak memiliki compartment terpisah untuk menyimpan botol ASI hasil pompa/perasan, maka sebaiknya ASI tersebut jangan disimpan lebih dari 3 x 24 jam. Ibu juga dapat “membuat” compartment terpisah dengan cara menempatkan botol ASI dalam container plastik yang tentunya dibersihkan terlebih dahulu dengan baik.

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Freezer?
ASI hasil pompa/perasan dapat disimpan dalam freezer biasa sampai 3 (bulan) lamanya. Namun Ibu jangan menyimpan ASI ini di bagian pintu freezer, karena bagian ini yang mengalami perubahan dan variasi suhu udara terbesar. Jika Ibu kebetulan memiliki freezer penyimpan daging yang terpisah (biasanya disebut deep freezer) yang umumnya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa, maka ASI hasil pompa/perasan bahkan dapat disimpan sampai dengan 6 (enam) bulan di dalamnya.

Bagaimana Cara Menyimpan ASI Hasil Pompa/Perasan Yang Baik?
a.. Simpan ASI dalam botol yang telah disterilkan terlebih dahulu
b.. Botol yang paling baik sebetulnya adalah yang terbuat dari gelas/beling, namun jika terpaksa menggunakan botol plastik, pastikanlah bahwa plastiknya cukup kuat (tidak meleleh jika direndam dalam air panas)
c.. Jangan pakai botol susu yang berwarna / bergambar, karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas
d.. Jangan lupa bubuhkan label setiap kali Ibu akan menyimpan botol ASI, dengan mencantumkan tanggal dan jam ASI dipompa/peras
e.. Simpan ASI di dalam botol yang tertutup rapat (jangan ditutup dengan dot, karena masih ada peluang untuk berinteraksi dengan udara)
f.. Jika dalam satu hari Ibu memompa/memeras ASI beberapa kali, bisa saja Ibu menggabungkan hasil pompa/perasan tsb dalam botol yang sama, dengan catatan bahwa suhu tempat botol disimpan stabil, antara 0 s/d 15 derajat Celcius). Penggabungan hasil simpanan ini bisa dilakukan asalkan jangka waktu pemompaan/pemerasan pertama s/d terakhir tidak lebih dari 24 jam.

Bagaimana Cara Pemberian ASI Yang Sudah Didinginkan Kepada Bayi?
1.. Panaskan ASI dengan cara: (a) membiarkan botol dialiri air panas (bukan mendidih) yang keluar dari keran ATAU (b) merendam botol di dalam baskom / mangkuk yang berisi air panas (bukan mendidih)
2.. Jangan sekali-sekali memanaskan botol dengan cara mendidihkannya dalam panci, menggunakan microwave atau alat pemanas lainnya (kecuali yang memang di-design untuk memanaskan botol berisi simpanan ASI)
3.. Ibu tentunya mengetahui berapa banyak bayi Ibu biasanya sekali meminum ASI. Sesuaikanlah jumlah susu yang dipanaskan dengan kebiasaan tsb. Misalnya dalam satu botol Ibu menyimpan sebanyak 180 cc ASI tetapi bayi Ibu biasanya hanya meminum 80, jangan langsung dipanaskan semua. INGAT bahwa susu yang sudah dipanaskan tidak bisa disimpan lagi!

Bagaimana Saya Mengetahui Apakah ASI Yang Disimpan Sudah Basi?
Sebenarnya jika Ibu mengikuti pedoman pemompaan/pemerasan ASI dan penyimpanan yang baik, ASI tidak akan mungkin basi. Kadang memang setelah disimpan / didinginkan akan terjadi perubahan warna dan rasa, tapi itu tidak menandakan bahwa ASI sudah basi. Asalkan Ibu berada dalam keadaan bersih ketika memompa/memeras, menyimpan ASI dalam botol yang steril & tertutup rapat, dalam jangka waktu yang dijabarkan seperti di atas dan saat memanaskan juga mengikuti petunjuk, mudah-mudahan ASI Ibu terjaga dalam kondisi yang baik. Dibandingkan susu formula, ASI lebih tahan lama. Pada saat berinteraksi dengan udara luar, biasanya yang terjadi bukan pembusukan ASI tetapi lebih merupakan berkurangnya khasiat ASI, terutama zat yang membantu pembentukan daya imun bayi.

SELAMAT !
Bayi Ibu sungguh beruntung memiliki Ibu yang menyadari betul arti dan manfaat pemberian ASI dalam awal kehidupannya. Semoga ia tumbuh sehat dan selalu berada dalam lindungan Tuhan. Amiin.

sumber:
Hanni Armansyah - Jakarta
Barger, J. and Bull, P.A., Comparison of the bacterial composition of breast milk stored at room temperature and stored in the refrigerator. Intl Journal of Childbirth Ed 2: pages 29 and 30 1987.
Hamosh, M. et al., Breastfeeding and the working mother effect of time and temperature of short term storage on proteolysis, lipolysis, and bacterial growth in milk. Pediatrics 97 (4) 492 to 498, 1996
Mohrbacher, N. and Stock, J., The Breastfeeding Answer Book, La Leche League International, 1997, pp 30 to 31.
Pardou, A. et al., Human milk banking: influence of storage processes and of bacterial contamination on some milk constituents. Biol Neonate 65:302 to 309, 1994
@ milis sehat


Share & Enjoy

Facebook Favorites More